UKM—Sektor yang Telantar
 

Walaupun UKM sangat penting dalam ekonomi dan memiliki dampak yang besar, dukungan untuk UKM sukar ditemukan, terutama dari segi pembiayaan. Di Asia Tenggara, secara rata-rata UKM mencakup 95% dari total usaha yang ada dan menyerap hampir 70% tenaga kerja. Namun, jumlah UKM yang memiliki akses terhadap pinjaman bank sebagai sumber pembiayaan bahkan kurang dari 20%. Peraturan perbankan yang ketat, diterapkan setelah krisis keuangan global tahun 2008, menjadikan bank dan sebagian besar lembaga keuangan lain semakin waspada terhadap risiko. Dengan demikian, bank lebih memilih mendanai perusahaan besar, alih-alih UKM. Selain itu, sangat sedikit kebijakan pemerintah yang diterapkan untuk membantu sektor UKM, terutama di negara berkembang. Masalah ini menyebabkan perusahaan besar semakin besar, sementara UKM harus menghadapi tingkat kegagalan yang tinggi.

 

Keuangan Syariah Melupakan Pemain Kecil
 

Saat ini, Keuangan Syariah umumnya hanya mendatangkan manfaat bagi perusahaan besar. Investasi berbasis Islam (selain simpanan di bank) sebagian besar hanya dilakoni oleh individu-individu yang kaya. Walaupun ekonomi syariah lebih fokus kepada dukungan dan keterlibatan masyarakat luas, kontribusi sektor ini terhadap UKM dan proyek sosial masih minim.

Sekitar 80% aset keuangan Syariah terdiri atas kredit bank. Perbankan Syariah juga harus menghadapi peraturan yang semakin ketat, sama dengan peraturan yang dihadapi bank-bank konvensional. Fokus perbankan untuk mengurangi risiko berarti peminjaman untuk UKM, yang tidak memiliki agunan tetap dan riwayat operasi yang panjang, tidak menjadi prioritas.

Sukuk adalah aset keuangan Syariah terbesar kedua, yang mencakup sekitar 15% dari total aset industri ini. Sama seperti peminjaman bank, perusahaan besar adalah pihak yang cenderung mengambil manfaat dari penerbitan instrumen investasi ini. Hanya sedikit—bahkan mungkin tidak ada—dampaknya yang menetes turun hingga ke level UKM. Bahkan sebaliknya: seiring dengan pertumbuhan perusahaan besar menjadi semakin besar, mereka akan mendepak usaha-usaha kecil dari persaingan.

 

Crowdfunding Syariah: Solusi bagi UKM
 

Dengan memadukan Keuangan Syariah dengan crowdfunding, muncul potensi untuk menangani masalah pembiayaan yang dihadapi oleh UKM. Crowdfunding memungkinkan kerja sama kolektif antar individu untuk menggabungkan sumber daya demi mendukung suatu tujuan, proyek, atau usaha yang mereka yakini. Prinsip pro-masyarakat ini dapat diterapkan untuk mendukung mereka yang membutuhkan investasi dalam kegiatan ekonomi riil—dengan kata lain, UKM. Selain itu, Keuangan Syariah menekankan pemerataan kekayaan.

Ini terbukti dalam maqashid syariah (tujuan-tujuan syariat Islam), yang menyebutkan bahwa sumber daya dari sektor yang berlebih semestinya dialihkan ke sektor yang kekurangan, sehingga kekayaan dapat beredar dengan baik dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Crowdfunding memiliki tujuan yang serupa: melepaskan investasi dari masyarakat dan menyalurkannya ke usaha yang paling membutuhkan pembiayaan. Integrasi antara dua konsep ini dapat mendukung pertumbuhan masyarakat secara keseluruhan melalui peningkatan kegiatan wirausaha, seraya mengikis ketimpangan sosial.

 

Tidak Hanya Untuk Muslim
 

Crowdfunding Syariah adalah suatu bentuk pembiayaan yang etis dan tidak hanya terbatas untuk umat Islam. Fokusnya adalah nilai-nilai dan etika—seperti pengembangan masyarakat, kejujuran, dan keadilan—yang diterima secara universal. Misalnya, sebuah perusahaan yang ingin mendanai kegiatan yang turut menyebabkan polusi lingkungan tidak akan menarik di mata publik, apalagi di suatu platform crowdfunding Syariah.

Fokus ini selaras dengan sistem seleksi investasi lain seperti Lingkungan, Keberlanjutan, dan Tata Kelola (Environmental, Sustainable and Governance atau ESG) dan investasi yang bertanggung jawab sosial (socially responsible investing atau SRI). Perbedaan positif yang diusung oleh Keuangan Syariah adalah satu filter lagi yang berdasar kepada hukum syariah, yang diyakini oleh umat Islam sebagai hukum yang melindungi seluruh umat manusia. Filter ini antara lain melarang penggunaan sistem bunga dan pengambilan risiko berlebihan atau ketidakpastian.

 

Masih Ada Tantangan …
 

Tak pelak lagi, masih ada beberapa tantangan yang dapat menghambat keberhasilan Crowdfunding Syariah. Pertama, kekurangan pengetahuan mengenai cara kerja Keuangan Syariah dan crowdfunding. Bagi banyak orang, struktur keuangan Syariah adalah hal yang baru, terutama karena pemakaian sistem keuangan konvensional (berbasis bunga) telah menjadi hal yang lumrah di sebagian besar kalangan. Struktur Keuangan Syariah seperti Murabahah (biaya plus margin laba) dan Mudharabah (bagi hasil) sebetulnya relatif sederhana, namun jika berkaitan dengan keuangan dan investasi, umumnya orang enggan mencoba sesuatu yang baru. Selain itu, crowdfunding adalah konsep yang relatif baru di pasar berkembang—kawasan yang sangat membutuhkan pembiayaan UKM. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang cukup besar dalam mendidik masyarakat mengenai Keuangan Syariah dan crowdfunding.

Tantangan besar lainnya adalah masalah peraturan. Dari sisi Keuangan Syariah, harus ada kepatuhan dari semua pihak, untuk memastikan pembiayaannya memenuhi semua syarat syariah. Jika kepatuhan ini harus diverifikasi oleh pihak ketiga, biayanya akan mahal. Namun, hal ini dapat dihindari melalui kerja sama erat dengan lembaga-lembaga yang berpengetahuan seperti universitas atau perkumpulan ulama lain.

Dari sisi crowdfunding, kawasan Asia masih belum menerapkan peraturan terkait hal ini. Sebagian besar negara telah menyediakan sarana untuk operasi platform crowdfunding asalkan peraturan yang ada tidak dilanggar, namun ketiadaan kejelasan peraturan menimbulkan semacam ketidakpastian dan keraguan masyarakat mengenai keabsahan platform investasi ini. Operator crowdfunding pun lebih sulit memasarkan jasanya secara terbuka dan mendidik masyarakat.

 

… Namun Peluang Terbentang
 

Tantangan-tantangan tersebut bersifat temporer, dan setelah berhasil diatasi, crowdfunding Syariah dapat tumbuh pesat. Prospek pertumbuhan crowdfunding Syariah sangat besar, mengingat pasar yang masih relatif kecil dan kebutuhan sangat tinggi akan pembiayaan UKM. Kami memperkirakan nilai total pasar crowdfunding Syariah baru mencapai USD 30 juta pada tahun 2015, dibandingkan nilai total pasar crowdfunding yang mencapai SGD 34 miliar.

Salah satu faktor yang juga dapat mendorong pertumbuhan sektor ini adalah semakin lazimnya pemakaian struktur keuangan Syariah untuk memenuhi kebutuhan spesifik UKM dan membatasi risiko terhadap investor. Sebagian besar platform crowdfunding saat ini memakai sistem kontrak Murabahah (biaya plus margin laba) dan Mudharabah (bagi hasil). Struktur lain yang dapat dipertimbangkan misalnya Salam (transaksi pembiayaan berjangka), Ijarah (sewa), dan Musyarakah Mutanaqishah (kemitraan ekuitas berkurang).

Kapital Boost, sebagai salah satu pelopor Crowdfunding Syariah dan salah satu pendiri utama Syariahc Fintech Alliance (Syariahcfintechalliance.com), sangat antusias melihat potensi pertumbuhan sektor ini. Namun, yang sebenarnya menjadi faktor utama yang menggerakkan kami adalah kemampuan untuk mempertemukan usaha kecil dengan investor kecil, dengan niat mendukung pertumbuhan masyarakat dan investasi etis.

" />
Are you sure want to logout?

Crowdfunding Syariah - Solusi Bagi UKM

Saturday, June 17, 2017



Semangat kewirausahaan sejak dulu telah menjadi bagian dari Islam. Sembilan dari sepuluh sahabat Nabi Muhammad (SAW) yang dijamin masuk surga adalah pengusaha.

Saat ini, wirausaha masih menjadi faktor penggerak ekonomi. Namun, ketiadaan dukungan keuangan untuk usaha kecil dan menengah (UKM) mengancam semangat kewirausahaan ini. Kami yakin, Crowdfunding Syariah dapat menawarkan solusi atas masalah ini. Kemampuan Crowdfunding Syariah menjangkau masyarakat luas, di mana pun mereka berada, adalah faktor penting yang memungkinkan penggalangan dukungan dan mobilisasi kekayaan, yang kemudian dapat menjadi bahan bakar bagi pengembangan sosial dan ekonomi. Pada intinya, Crowdfunding Syariah dapat mewujudkan prinsip Ilahi yang mendukung partisipasi masyarakat dalam mengembangkan usaha.

 

UKM—Sektor yang Telantar
 

Walaupun UKM sangat penting dalam ekonomi dan memiliki dampak yang besar, dukungan untuk UKM sukar ditemukan, terutama dari segi pembiayaan. Di Asia Tenggara, secara rata-rata UKM mencakup 95% dari total usaha yang ada dan menyerap hampir 70% tenaga kerja. Namun, jumlah UKM yang memiliki akses terhadap pinjaman bank sebagai sumber pembiayaan bahkan kurang dari 20%. Peraturan perbankan yang ketat, diterapkan setelah krisis keuangan global tahun 2008, menjadikan bank dan sebagian besar lembaga keuangan lain semakin waspada terhadap risiko. Dengan demikian, bank lebih memilih mendanai perusahaan besar, alih-alih UKM. Selain itu, sangat sedikit kebijakan pemerintah yang diterapkan untuk membantu sektor UKM, terutama di negara berkembang. Masalah ini menyebabkan perusahaan besar semakin besar, sementara UKM harus menghadapi tingkat kegagalan yang tinggi.

 

Keuangan Syariah Melupakan Pemain Kecil
 

Saat ini, Keuangan Syariah umumnya hanya mendatangkan manfaat bagi perusahaan besar. Investasi berbasis Islam (selain simpanan di bank) sebagian besar hanya dilakoni oleh individu-individu yang kaya. Walaupun ekonomi syariah lebih fokus kepada dukungan dan keterlibatan masyarakat luas, kontribusi sektor ini terhadap UKM dan proyek sosial masih minim.

Sekitar 80% aset keuangan Syariah terdiri atas kredit bank. Perbankan Syariah juga harus menghadapi peraturan yang semakin ketat, sama dengan peraturan yang dihadapi bank-bank konvensional. Fokus perbankan untuk mengurangi risiko berarti peminjaman untuk UKM, yang tidak memiliki agunan tetap dan riwayat operasi yang panjang, tidak menjadi prioritas.

Sukuk adalah aset keuangan Syariah terbesar kedua, yang mencakup sekitar 15% dari total aset industri ini. Sama seperti peminjaman bank, perusahaan besar adalah pihak yang cenderung mengambil manfaat dari penerbitan instrumen investasi ini. Hanya sedikit—bahkan mungkin tidak ada—dampaknya yang menetes turun hingga ke level UKM. Bahkan sebaliknya: seiring dengan pertumbuhan perusahaan besar menjadi semakin besar, mereka akan mendepak usaha-usaha kecil dari persaingan.

 

Crowdfunding Syariah: Solusi bagi UKM
 

Dengan memadukan Keuangan Syariah dengan crowdfunding, muncul potensi untuk menangani masalah pembiayaan yang dihadapi oleh UKM. Crowdfunding memungkinkan kerja sama kolektif antar individu untuk menggabungkan sumber daya demi mendukung suatu tujuan, proyek, atau usaha yang mereka yakini. Prinsip pro-masyarakat ini dapat diterapkan untuk mendukung mereka yang membutuhkan investasi dalam kegiatan ekonomi riil—dengan kata lain, UKM. Selain itu, Keuangan Syariah menekankan pemerataan kekayaan.

Ini terbukti dalam maqashid syariah (tujuan-tujuan syariat Islam), yang menyebutkan bahwa sumber daya dari sektor yang berlebih semestinya dialihkan ke sektor yang kekurangan, sehingga kekayaan dapat beredar dengan baik dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Crowdfunding memiliki tujuan yang serupa: melepaskan investasi dari masyarakat dan menyalurkannya ke usaha yang paling membutuhkan pembiayaan. Integrasi antara dua konsep ini dapat mendukung pertumbuhan masyarakat secara keseluruhan melalui peningkatan kegiatan wirausaha, seraya mengikis ketimpangan sosial.

 

Tidak Hanya Untuk Muslim
 

Crowdfunding Syariah adalah suatu bentuk pembiayaan yang etis dan tidak hanya terbatas untuk umat Islam. Fokusnya adalah nilai-nilai dan etika—seperti pengembangan masyarakat, kejujuran, dan keadilan—yang diterima secara universal. Misalnya, sebuah perusahaan yang ingin mendanai kegiatan yang turut menyebabkan polusi lingkungan tidak akan menarik di mata publik, apalagi di suatu platform crowdfunding Syariah.

Fokus ini selaras dengan sistem seleksi investasi lain seperti Lingkungan, Keberlanjutan, dan Tata Kelola (Environmental, Sustainable and Governance atau ESG) dan investasi yang bertanggung jawab sosial (socially responsible investing atau SRI). Perbedaan positif yang diusung oleh Keuangan Syariah adalah satu filter lagi yang berdasar kepada hukum syariah, yang diyakini oleh umat Islam sebagai hukum yang melindungi seluruh umat manusia. Filter ini antara lain melarang penggunaan sistem bunga dan pengambilan risiko berlebihan atau ketidakpastian.

 

Masih Ada Tantangan …
 

Tak pelak lagi, masih ada beberapa tantangan yang dapat menghambat keberhasilan Crowdfunding Syariah. Pertama, kekurangan pengetahuan mengenai cara kerja Keuangan Syariah dan crowdfunding. Bagi banyak orang, struktur keuangan Syariah adalah hal yang baru, terutama karena pemakaian sistem keuangan konvensional (berbasis bunga) telah menjadi hal yang lumrah di sebagian besar kalangan. Struktur Keuangan Syariah seperti Murabahah (biaya plus margin laba) dan Mudharabah (bagi hasil) sebetulnya relatif sederhana, namun jika berkaitan dengan keuangan dan investasi, umumnya orang enggan mencoba sesuatu yang baru. Selain itu, crowdfunding adalah konsep yang relatif baru di pasar berkembang—kawasan yang sangat membutuhkan pembiayaan UKM. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang cukup besar dalam mendidik masyarakat mengenai Keuangan Syariah dan crowdfunding.

Tantangan besar lainnya adalah masalah peraturan. Dari sisi Keuangan Syariah, harus ada kepatuhan dari semua pihak, untuk memastikan pembiayaannya memenuhi semua syarat syariah. Jika kepatuhan ini harus diverifikasi oleh pihak ketiga, biayanya akan mahal. Namun, hal ini dapat dihindari melalui kerja sama erat dengan lembaga-lembaga yang berpengetahuan seperti universitas atau perkumpulan ulama lain.

Dari sisi crowdfunding, kawasan Asia masih belum menerapkan peraturan terkait hal ini. Sebagian besar negara telah menyediakan sarana untuk operasi platform crowdfunding asalkan peraturan yang ada tidak dilanggar, namun ketiadaan kejelasan peraturan menimbulkan semacam ketidakpastian dan keraguan masyarakat mengenai keabsahan platform investasi ini. Operator crowdfunding pun lebih sulit memasarkan jasanya secara terbuka dan mendidik masyarakat.

 

… Namun Peluang Terbentang
 

Tantangan-tantangan tersebut bersifat temporer, dan setelah berhasil diatasi, crowdfunding Syariah dapat tumbuh pesat. Prospek pertumbuhan crowdfunding Syariah sangat besar, mengingat pasar yang masih relatif kecil dan kebutuhan sangat tinggi akan pembiayaan UKM. Kami memperkirakan nilai total pasar crowdfunding Syariah baru mencapai USD 30 juta pada tahun 2015, dibandingkan nilai total pasar crowdfunding yang mencapai SGD 34 miliar.

Salah satu faktor yang juga dapat mendorong pertumbuhan sektor ini adalah semakin lazimnya pemakaian struktur keuangan Syariah untuk memenuhi kebutuhan spesifik UKM dan membatasi risiko terhadap investor. Sebagian besar platform crowdfunding saat ini memakai sistem kontrak Murabahah (biaya plus margin laba) dan Mudharabah (bagi hasil). Struktur lain yang dapat dipertimbangkan misalnya Salam (transaksi pembiayaan berjangka), Ijarah (sewa), dan Musyarakah Mutanaqishah (kemitraan ekuitas berkurang).

Kapital Boost, sebagai salah satu pelopor Crowdfunding Syariah dan salah satu pendiri utama Syariahc Fintech Alliance (Syariahcfintechalliance.com), sangat antusias melihat potensi pertumbuhan sektor ini. Namun, yang sebenarnya menjadi faktor utama yang menggerakkan kami adalah kemampuan untuk mempertemukan usaha kecil dengan investor kecil, dengan niat mendukung pertumbuhan masyarakat dan investasi etis.

You have not verified your account. To do so, please click the link on the Account Activation email (it might be in your Spam folder) that was sent to you shortly after you created an account with us.
If you'd like us to re-send the Account Activation email, please fill in your email address below and click submit
Membership Registration

OR

The Username you've chosen is taken.
Please use another one.

You already have an account in Kapital Boost.
Please click the button below to retrieve your password.



Thank you for registering!
A verification email has been sent to . Please follow the instructions in the email to verify your account. Remember to check the spam folder in case you don't see the email in your inbox.